Langsung ke konten utama

Berpikir Sebelum Bertindak

Ini sebuah pengakuan yang agak mengecewakan. Saya sangat menyesal pernah melakukannya. Hal ini membuat saya menjadi sangat sangat sangaat waswas dalam menilai orang kedepannya. Terutama dengan paham universal yang sering kita dengar.

" Don't judge people by the cover "

Terutama jika cover-cover itu berasal dari rekanan Anda yang belum dikenal betul. Sungguh, Anda akan sangat menyesal dikemudian hari atas penilaian sepihak Anda saat itu. Waiiit, kenape bahasa saya jadi formal ginii?

Lalu, mengenai cara kita menanggapi sapaan orang dikesan pertama. Huuft, kesan pertama emang terkadang seringnya awkward. Tapi percaya deh, kesannya pertama ga selamanya mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain dimasa depan. Kenapa? Semakin terjalinnya komunikasi diantara kita pasti bakal menciptakan kesan-kesan lain yang beragam.

Bergurau dengan teman memang selalu asyik, tapi itu berubah jadi ga asyik kalo udah menyindir hal-hal private yang berhubungan dengan teman kita. Hampir semuanya mengenal kalo itu udah termasuk bullying.Menurut narasumber diseminar yang pernah saya hadiri, beliau berpendapat :

" Menghina bukanlah bagian dari gurauan antar teman yang bisa dianggap biasa "

Saat itu saya sempet ngobrol dikit sama temen saya yang bersama saya menghadiri event tsb. 
Saya    : Iya apah? Tapi, semua itu selalu terasa fun dan lumrah aja kita lakuin. Iya engga??
Teman : Iyah terasa fun fun aja dan terus jadi kebiasaan dah. Ampe ga terasa nih, awalnya dari hina
              kecil-kecilan ntar berujung penghinaan besar-besaran.
Saya    : ._. (saya diem sesaat) koo, lo ngomongnya gitu sih?
Teman : Loh, emang bener kan? Kita sendiri udah bisa ngeliat contohnya langsung dilingkungan kita.               Udah ga kaya dulu, cuma bisa diliat ditelevisi.

Nangkep ga apa yang diomongin sama saya diatas. Itu juga berhubungan lho dengan berpikirnya seseorang sebelum bertindak melakukan bullying contohnya.

Bahkan ada yang terang-terangan bilang :

" Kalian ga akan tau sensasinya nge-bully, sebelum kalian ngelakuin sendiri "

----------
Sekian 2 contoh singkat tentang pentingnya 'berpikir sebelum bertindak' dari saya. Babay, see yuu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Indonesia atau yang Lain? (Part 1)

Indonesia. Apa satu hal yg langsung terbayang dipikiranmu saat mendengar nama itu? Bali? Komodo? Orangutan? Soekarno? Habibie? Itu hal positif yg Alhamdulillah masih diingat sampai sekarang. Kalo yg ini? Korupsi? Bentrok? Itu negatifnya yg sayang masih kita dengar. Bicara negeri kita, saya tidak akan membicarakan hal meluas yang berhubungan diatas. Saya cuma mau bahan satu hal malam ini. Tentang respon masyarakat tentang karya anak bangsa,yaitu film. Pernah suatu hari saya berburu diskon ceritanya di internet. Nemu promo dibioskop nonton murmer gitu tapi khusus cuma film luar aja. Seketika saja, saya berpikir. Ko kesannya jadi marketing gitu ya biar film luar lebih laku daripada film negri sendiri(?) Lalu hari ini. Iseng sebenarnya buka twitter. Nemu #HariFilmNasional dan nongol promo beli satu gratis satu dibioskop. Tapii.. Khusus film dalam negeri saja,itupun hanya dibeberapa bioskop saja. Dua peristiwa itu saya alami dengan respon yg lumayan berbeda. Saat saya menglmentar...

Yang di Luar Sana

Assalammu'alaikum. Hai :') Lama ya ga nulis. Bukan sibuk kok cuma fokusnya yang teralihkan. Hehe Sebelum curhat, saya mau cerita aja kenapa lama vakum di blog. Ketertarikan saya teralihkan dengan media lain yaitu tumblr. Bukan bermaksud untuk bilang blog ini ga nyaman. Tapi saya seperti menemukan sebuah passion lain di tumblr. Yang membuat saya berani bisa berbicara mengenai kehidupan meski dalam bentuk tersirat. Sering kali, saya menemukan satu-dua tulisan yang membuat saya termenung. Merefleksikan diri dari kehidupan. Memberikan energi extra dalam melanjutkan sebuah perjalanan. Menyadarkan untuk tidak DIAM . Yang saya dengar, diam itu emas . Terserah sih. Tapi kadang di situasi tertentu saat kamu memilih diam itu bisa jadi kejam. Mungkin saya terdengar berlebihan. Saya berusaha jujur mengungkap apa yang saya rasakan. But that was true. Ahh lelah untuk menjelaskannya. Percuma saja. Nikmati hidangan yang kamu pilih nona . Hidup ini memang sadis.. memaksa untuk m...

Hal Simpel yang Bikin Bete PART II

Hollala semua. Saya kembali dengan ' Hal Simpel yang Bikin Bete PART II '. Sayangnya ini cukup berkaitan sama part sebelumnya. So, sangat disarankan baca dulu ya sebelumnya ;) Ini soal kalo kita mau dibuat nunggu sama orang bahkan pake diancem segala. Haduooh, bete ga sih? Jadi begini ceritanya... saya tadinya mau rapat sama teman-teman. Karena langka banget gitu yang dateng. Jadi dihumasinnya jadi agak berbau ancaman . Tenang.. ancaman ini tidak berbentuk seperti kekerasan, SARA, atau apapun hal negatif yang kini seliweran diotak kalian. Ini cuma sedikit gertakan sih. Tapi betapa menyebalkannya ketika gertakan itu tidak berfungsi kepada pihak yang dimaksudkan? Sama aja boong. So? Intinya.. gertakan yang dilakukan oleh pimpinan saya sama sekali tidak mempan untuk massa kami. Massa sudah menjadi lebih cerdik dalam memahami isi pesan yang dihumaskan. Lebih nalar akan keadaan. Miris sih, tapi begitulah. Sekian dari saya , see yuu