Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Kamu Kenal Aku? Sampai dimana...

Kehidupan sosial itu penuh persoalan. Kita dihadapkan pada soal mudah, sulit, dan tidak terjawab. Dalam penyelesaiannya kita terlibat dengan beberapa orang. Entah dengan orang terdekat atau orang yang tak kita kenal. Sekarang saya berpikir, apa bedanya orang terdekat dan orang yang tidak kita kenal? DEKAT Berhadapan dengan orang terdekat memiliki dua kondisi. Akankah kita merasa nyaman atau risih. Dekat bukan berarti kita terikat. Terikat sama saja dekat karena paksa. Tidak seorangpun mau dipaksa untuk terikat. Yang menentukan sedekat sejauh apa suatu hubungan bukan mereka yang melihat. Tapi kita yang menjalani. Tidak satupun pihak yang bisa mengunci pilihan diantara yang terlibat. Pemeran utamanyalah yang berhak mengambil keputusan. Bukan satu, namun keduanya. Kedekatan kadang terasa seperti mempermainkan. Nampak baik namun isi tak sebaik tampaknya. Dekat bukan berarti harus tau segalanya. Kalau nyatanya dekat , kedekatan akan membukakan dengan sendirinya. Dekat tidak...

Berpikir Sebelum Bertindak

Ini sebuah pengakuan yang agak mengecewakan. Saya sangat menyesal pernah melakukannya. Hal ini membuat saya menjadi sangat sangat sangaat waswas dalam menilai orang kedepannya. Terutama dengan paham universal yang sering kita dengar. " Don't judge people by the cover " Terutama jika cover-cover itu berasal dari rekanan Anda yang belum dikenal betul. Sungguh, Anda akan sangat menyesal dikemudian hari atas penilaian sepihak Anda saat itu. Waiiit, kenape bahasa saya jadi formal ginii? Lalu, mengenai cara kita menanggapi sapaan orang dikesan pertama. Huuft, kesan pertama emang terkadang seringnya awkward. Tapi percaya deh, kesannya pertama ga selamanya mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain dimasa depan. Kenapa? Semakin terjalinnya komunikasi diantara kita pasti bakal menciptakan kesan-kesan lain yang beragam. Bergurau dengan teman memang selalu asyik, tapi itu berubah jadi ga asyik kalo udah menyindir hal-hal private yang berhubungan dengan teman kita. Hampir s...

Hal Simpel yang Bikin Bete PART II

Hollala semua. Saya kembali dengan ' Hal Simpel yang Bikin Bete PART II '. Sayangnya ini cukup berkaitan sama part sebelumnya. So, sangat disarankan baca dulu ya sebelumnya ;) Ini soal kalo kita mau dibuat nunggu sama orang bahkan pake diancem segala. Haduooh, bete ga sih? Jadi begini ceritanya... saya tadinya mau rapat sama teman-teman. Karena langka banget gitu yang dateng. Jadi dihumasinnya jadi agak berbau ancaman . Tenang.. ancaman ini tidak berbentuk seperti kekerasan, SARA, atau apapun hal negatif yang kini seliweran diotak kalian. Ini cuma sedikit gertakan sih. Tapi betapa menyebalkannya ketika gertakan itu tidak berfungsi kepada pihak yang dimaksudkan? Sama aja boong. So? Intinya.. gertakan yang dilakukan oleh pimpinan saya sama sekali tidak mempan untuk massa kami. Massa sudah menjadi lebih cerdik dalam memahami isi pesan yang dihumaskan. Lebih nalar akan keadaan. Miris sih, tapi begitulah. Sekian dari saya , see yuu

Hal Simpel yang Bikin Bete PART I

Hallo. Saya mau cerita. Ada sedikit pemikiran yang masih nyangkut sampe sekarang. Ini soal kegiatan yang lazim banget dilakuin kita setiap harinya. Yang bisa bikin kita bete kalo udah kelamaan. Yang biasanya udah berharap banyak eeh berujung tumpul -_- apess emang. Okeeh. Siapa yang ga pernah nunggu ? Atau engga siapa sih yang ga pernah bikin orang nunggu ? Fuhh.. kegiatan satu ini simple namun bisa berefek 'dahsyat' untuk sebuah penilaian pribadi suatu individu. Awalnya emang biasa aja ketika kita mengucapkan " maaf, saya terlambat karena.. " seterusnya kita juga jadi menganggap itu udah jadi umum. Tapi.. rasain deh suatu saat, kamu diposisi orang yang nungguin . Udah ada planning cemerlang mau bahas apaan, udah semangat berapi-api buat ketemuan... ga ta u nya. Yang ditungguin ngaret-ret-ret (titik) JANGAN langsung bete sepihak ketika itu. Balik lagi refleksi, apa diri kita juga pernah membuat orang menunggu sampe se-bete itu. Pliss, jangan langsung emosi da...

Benang Merah

Memandang wajah temanku yang satu itu serentak mengingatkanmu. Sejenak aku terlabuh pada masa lalu. Aku dan kamu . Dimana secuil rempah kue menjadi hal yang direbutkan. Dimana jam pulang menjadi pertimbangan. Dimana tekad selalu harus memiliki perwujudan. Kamu dan aku . Memang awalnya tak bisa saling menebak. Siapa duluan yang menyapa siapa. Aku atau kamu ? Tapi kejujuran menyatukan kita . Tak harus berbentuk rahasia namun sederhana. Aku bernafas oleh bait-bait kata yang terlintas dikepala ku. Denyut nadiku, mengalir mengantar cinta hingga sampai hati. Selalu ada hal yang tak bisa dipungkiri. Sulit dijelaskan namun memiliki arti. Sesingkat apapun komunikasi yang kita jalin. Aku selalu menghargai itu. Meski canggung yang masih terjalin, aku tetap percaya diri. Kita mungkin masih bisa bergandengan seperti dulu . Berdamai dengan bedanya jalur yang ditempuh,  Kita masih punya mimpi. Simpel namun semoga selalu kau ingat. Bertemulah kembali di negeri pendidikan ...